Selasa, 09 Agustus 2016

Ekonomi



EKONOMI
KENAIKAN HARGA DAGING

Jakarta – Harga daging sapi masih tinggi di pasar tradisional. Saat ini harga daging sapi masih kisaran Rp 120 ribu per kilogram atau belum banyak bergerak sejak awal Ramadhan.
Pedagang daging sapi Mang Agus (36) mengatakan, kenaikan daging sapi menjelang Ramdhan dan Idul Fitri sudah biasa.
“Di tv-tv kan kemarin udah banyak berita katanya ada kenaikan ya? Tapi sampai hari ini kita di RPH itu tempat pemotongan masih biasa sih. Emang biasanya dari dulu kan menjelang Ramadhan sama Idul Fitri itu pasti ada kenaikan.”
Dia menuturkan juga dia berharap kenaikan harga daging sapi dapat segera turun, karena kenaikan daging sapi ini sangat berdampak pada omset penjualannya.
“Yaa mudah-mudahan aja pemerintah kan kemarin Pak Jokowi bilang, harga daging kalau bisa 80rb gitu. Ya mudah-mudahan nanti benar gitu. Jadi, kalau bisa turun kan jadi 80rb. Jadi kita juga omset kita jadi nambah gitu, dengan harga segitu aja kita nih kurang gitu omset kita penjualan segitu. Apalagi kemarin liat berita kan hampir 130rb gitu.”
Pedagang sapi lain Sutisna (43) mengatakan, jika pembelian daging dibatasi. Maka dapat berdampak pada pendapatannya.
“Kalau dibatasin gitu, kita enggak bisa dagang. Belinya mahal jualnya murah. Bagaimana?”
Selain itu, dia pun mengatakan. Dia pun menyetok daging sapi dari satu bulan sebelum penjualannya dan juga sudah diternakan selama 6 bulan.
“Sedangkan kita satu bulan kan udah ancang-ancang kita nyetok. Buat persediaan lebaran tuh belinya saya dari bulan kemarin. Kita piara 6 bulan.”(DN)


DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM



Jakarta – Kenaikan harga BBM yang bisa dikatakan melambung, membuat masyarakat bingung serta geram. Khususnya bagi para mahasiswa yang sudah pasti sebagian besar menggunakan kendaraan bermotor. Tidak heran jika banyak masyarakat dan khususnya mahasiswa yang mengeluh akan kenaikan BBM ini.
Seorang mahasiswa Putri Anugerah (22) juga mengeluhkan ongkos naik angkutan umum pun ikut naik akibat BBM naik serta dia pun kecewa akan kenaikan harga BBM ini.
“Saya mengikuti berita tentang BBM yang sedang naik. Bagi saya berita tentang BBM naik ini sangat berdampak besar bagi saya dan angkutan umum naik 500 rupiah. Saya kecewa dengan kenaikan BBM ini.”
Walalupun kita tidak menggunakan kendaraan bermotor tetapi tetap saja ongkos naik angkutan umum pun ikut berdampak dari kenaikan BBM ini.
Seorang mahasiswa lain pun Muhammad Sidik (22) ikut kecewa akan kenaikan BBM ini karena kenaikan BBM ini berdampak juga bagi keuangannya.
“Saya mengikuti berita mengenai BBM karena saya menggunakan kendaraan bermotor. Sejak premium naik dari Rp 6900 jadi Rp 7400, saya sangat kecewa dengan kenaikan ini karena uang jajan saya habis.”
Selain mahasiswa, beberapa siswa SMA Azriel (16) juga mengeluhkan BBM naik karena dengan BBM naik, maka semua harga bahan pokok jadi tidak konsisten.
“Saya mengikuti berita mengenai BBM, karena saya kerap menggunakan angkutan umum dari 4000 rupiah menjadi 5000 rupiah. Saya kesal karena pengeluaran jadi bertambah. Saya juga punya usaha dibidang kuliner, maka bahan pokok semuanya naik. Menurut saya, pemerintahan sekarang tuh kacau. Karena membuat semua harga menjadi tidak konsisten.”
Selain banyaknya masyarakat yang kontra dengan kenaikan BBM ini, ada pula masyarakat Fitriani (25) yang pro dengan adanya kenaikan BBM ini.
“Sebenarnya saya setuju dengan adanya kenaikan BBM. Karena dengan begitu, subsidi pemerintah bisa diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu. Walaupun sebenarnya saya tidak tau subsidi itu tepat diberikan pada yang mampu atau tidak.”(DN)



TAKSI KONVENSIONAL

Jakarta – Di zaman era modernisasi ini, segala kebutuhan manusia sampai angkutan umum pun sudah sangat mudah di dapatkan dengan cara mendownload sebuah aplikasi di smartphone. Namun, tidak banyak warga Indonesia yang beralih untuk menaiki angkutan umum dengan cara online. 

Kita sempat dihebohkan dengan adanya demo para supir taksi konvensional yang mengeluhkan adanya angkutan umum yang berbasis online tersebut. Namun, tidak semua masyarakat yang beralih dengan cara online ini, masih ada beberapa masyarakat yang setia menaiki angkutan konvensional. Salah satunya taksi.
 
“Karena saya sejak dulu saya memakai taksi konvensional lebih mudah karena banyak berlalu lalang. Dibanding dengan menggunakan taksi online harus menggunakan android atau aplikasi.” Ujar Sri Wicaksono".

Untuk perbandingan harga taksi konvensional dan taksi online relatif tidak terlalu mahal. Hanya sedikit perbedaannya, walaupun harga taksi online relatif lebih murah. Namun, tidak membuat ibu Sri Wicaksono (50) beralih ke taksi online.
“Sejauh ini saya tidak pernah memakai taksi online, katanya memang lebih murah tapi paling selisih berapa yah. Jadi no problem. Tapi memang saya sudah terbiasa menggunakan taksi konvesional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar